Categories
Main

Resep Menjaga Keseimbangan Ekosistem Tambak

Ekosistem tambak yang seimbang akan membuat udang nyaman. Dengan bahasa sederhana, Suryo Setyo, pembudidaya udang kawakan asal Bali menjelaskan, “Pengertian dasar ekosistem se-simple bagaimana kita bisa membuat semua biota di dalam petakan tercukupi pakannya sehingga semuanya berputar saling membutuhkan tapi tidak saling mengganggu.” Artinya, siklus penguraian bahan organik di tambak harus berputar agar terjadi keseimbangan ekosistem. Bagaimana caranya?

Persiapan Petak Sebelum memulai budidaya, kata Suryo, siapkan petak tambak sebaik mungkin. Bersihkan lumut, teritip, dan sisa lumpur di petakan pascapanen. Setelah tambak benar-benar bersih, semprotkan HCl untuk membunuh sisa-sisa spora yang tertinggal. Cara ini bisa mengurangi per tumbuhan blue green algae (BGA). Lalu keringkan tambak. “Petakan harus kering minimal 5 hari,” tegasnya. Bilas tambak sekali lagi sebelum pengisian air.

Sterilisasi air tambak menggunakan do sis yang sesuai kondisi lingkungan. “Saya pakai PCCA 30 ppm. Tapi untuk menyiap kan petak saya pakai 50 ppm,“ imbuhnya. Dosis ini tidak boleh kurang karena bisa mencegah pertumbuhan teritip atau tiram. “Kalau ada teritip, plankton akan susah tumbuh padahal kita di awal-awal inginnya plankton menguat,” lanjut pemilik hatchery (pembenihan) udang di Ndaru Laut, Banyuwangi, Jatim ini sambil mengingatkan petambak agar tidak menggunakan air steril yang belum netral dan masih tinggi residu. Alasannya, itu bisa membuat stres plankton, bakteri, dan udang. Pengaturan kincir dan anco berperan be sar dalam kesuksesan budidaya si bong kok. Kincir harus ditata dengan konsep arus air dalam petak dapat mengalir tanpa hambatan di semua area dan tidak ada zona mati. Letak kincir satu dengan yang lainnya tidak saling memotong dan tidak dalam satu garis. “Setting kincir mulai dari pinggir, jangan dibuat satu garis. Kalau setting-an nggak benar, jalan air di tutup, kotoran mau masuk ke dalam (central drain) juga susah.Kalau air meng alir, pergerakan plankton akan lebih nggak liar, nggak mendadak mati,” urainya.

Sementara anco diletakkan dalam po sisi yang bisa dibaca dan dipercaya, yaitu, posisi arus tidak keras dan tidak berputar. “Ini penting karena anco satusatunya alat deteksi visual kondisi udang dan naf su makan. Peletakan anco yang baik itu cirinya pakannya nyebar, nggak mojok. Kalau sampai mojok berarti arusnya ke ken cengan, harus dikecilkan,” jelasnya. Suryo menganjurkan penggunaan be nur Post Larvae (PL) 12 karena hepato pankreasnya sudah terbentuk dan bisa di lihat. Sedangkan benur paling kecil PL10 sebab tubuhnya sudah terbentuk sem purna. Ia pun mewajibkan pem bu didaya menghi tung benur dengan benar saat di te bar agar bisa mengatur feeding rateyang tepat.