Categories
Main

Inovasi Rantai Nilai Sejahterakan Petani

Sektor pertanian berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Menurut Muliaman D. Ha da, Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domes tik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 13,6%. Namun, hingga saat ini petani masih saja menghadapi kendala kesulitan permodalan, lahan pertanian terlalu ke cil, dan belum memiliki sertifikat la han. “Ketiadaan sertifikat lahan menghambat petani mengakses pembiaya an formal yang jauh lebih efisien di ban dingkan renternir,” kata Muliaman. Menurut Jusuf Kalla (JK), insentif utama buat petani adalah produktivitas. “Upaya ISEI, Kadin, dan PISAgro untuk konsep petani adalah kita tingkatkan produktivitasnya lewat bibit, pe nanganan yang baik, dan financial inclusion yang baik. Artinya, seluruh pe tani mendapat layanan keuangan yang baik,” ujarnya mantap.

Skema Rantai Nilai

Menilik berbagai permasalahan yang dihadapi petani, Kadin Indonesia bersama PISAgro dan bekerja sama dengan ISEI mengembangkan inovasi ske ma rantai nilai sektor pertanian. Menurut Rosan Roeslani, Ketua Kadin Indonesia, skema inovasi rantai bagi sektor agro merupakan kredit usaha rakyat (KUR) Plus. Yaitu, sebuah skema kredit untuk petani dengan manfaat tambahan seperti pemberian biaya hidup selama masa tunggu panen. Franky O. Widjaja, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan sekaligus CoChair PISagro menjelaskan, petani mem butuhkan akses inovasi pembiayaan berbentuk kredit dengan suku bu nga terjangkau untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraannya. “Komunitas keuangan memiliki peran yang sangat penting. Kita mengharapkan kolaborasi yang lebih besar dari perbankan, asuransi, dan institusi lainnya untuk membantu petani mengatasi kebutuhan pembiayaan mereka. Bila petani sejahtera, Indonesia juga se jahtera,” tegasnya. Implementasi inklusi keuangan telah berhasil dilakukan pada komoditas jagung, kelapa sawit, dan kopi. Selanjutnya, diikuti komoditas kakao, padi, kedelai, kentang, dan karet. Pada komodi tas jagung misalnya, petani jagung di Lampung bermitra dengan PT Vasham Kosa Sejahtera (Vasham), perusa haan yang bergerak di bidang kemitraan pertanian.

Hasil Meningkat

Bermitra dengan Vasham, petani akan memperoleh pinjaman dana dari bank. Vasham juga membantu menyuplai kebutuhan sarana produksi, seperti benih jagung dan pestisida sesuai keinginan petani. Ketika masa panen jagung tiba, perusahaan yang berbasis di Jakarta ini akan membeli jagung petani dan memberikan bagi hasil 90% untuk petani. Vasham lalu menjual jagung ke PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Menurut Murtini, salah satu mitra Vasham, di Lampung, petani biasa menjual hasil panennya ke pedagang pengepul dengan harga Rp1.800/kg dalam bentuk pipilan kering. “Karena pengepul yang menguasai pupuk subsidi, harga jagung kami dibeli dengan harga jauh di bawah harga pasar,” ujarnya.

Semenjak bermitra dengan Vasham, Murtini bisa menjual jagung dengan harga Rp3.000/ kg. “Hasil saya sebelum ikut Vasham cuma Rp2,5 juta/ musim. Setelah ikut Vasham sekitar Rp5 juta/musim. Itu bersih, sudah kepotong sama bajak, pekerja,” ulasnya bahagia. Dulu dengan setengah hektar lahan, istri Edi Sutanto ini hanya memanen 2,5-3 ton jagung pipilan setiap musim. Sekarang, dari lahan yang sama, hasil panennya mencapai 5 ton.