Categories
News

Berburu Permintaan Baru

Sampai sekarang ekspor produk sa – wit masih jadi andalan nasional da – lam menyedot devisa dari luar nege – ri. Menurut Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), saat ini Indonesia menjadi produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar dunia. Menyitir data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tungkot menyebut, tahun lalu produksi kita men – capai 42 juta ton. Sebanyak 32 juta ton lebih diekspor ke China, India, Uni Eropa, Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh, negara-negara Afrika dan Timur Tengah. “Tahun lalu devisa minyak sawit membukukan rekor baru, hampir US$23 miliar. Tidak ada sektor lain yang menghasikan devisa sebanyak ini,” tandasnya. Kompo – sisi produknya juga tidak lagi didominasi CPO (minyak mentah) melainkan olahan meski belum sebanyak variasi produksi Malaysia. Pasar domestik menyedot sebanyak 11 juta ton. Sebesar 2,5 juta ton untuk campuran bahan bakar dalam program man – da tori biodiesel B20. Sebanyak 5 juta ton diolah menjadi minyak goreng. Dan sisanya menjadi olahan pangan dan nonpangan.

Produksi Puncak

Tahun ini produksi minyak nabati dunia, yaitu minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak kedelai, dan minyak rapeseed, diprediksi mencapai puncak dengan volume 198 juta ton. Kontribusi sawit diperkirakan akan naik dari 73 juta ton menjadi 78 juta ton. “Minyak sawit paling kompetitif dan murah dibandingkan minyak nabati yang lain. Ini membuat ketar-ketir produsen minyak soybean, rapeseed, dan sunflower yang produsen utamanya Amerika Seri – kat, Argentina, dan Brasil. Sedangkan rapeseed dan sunflower itu adalah Eropa. Itulah kenapa mereka melancarkan kam – pa nye negatif terhadap minyak sawit ka – re na memang tergusur oleh kehadiran mi – nyak sawit,” ulas doktor ahli perdagangan internasional itu. Bicara prospek agribisnis sawit, Tungkot melihat perekonomian negara-negara kon sumen sawit tumbuh cukup baik. “De – ngan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya patut kita berharap bahwa harga CPO tahun ini akan lebih baik daripada tahun lalu,” katanya. Tambahan lagi semangat Indonesia me – laksanakan mandatori B20 lebih baik se – hingga bisa menyerap 3,12 juta ton. Masih dalam konteks biodiesel, China dikabar – kan akan melaksanakan B5 sehingga ber – potensi butuh 9 juta ton minyak sawit. “Jadi, proyeksi produksi CPO Indonesia 2018 sebanyak 47,831 juta ton, naik dari sebelumnya 42 juta ton. Ekspor kita juga akan naik dari 32 juta ton jadi 35 juta ton. Saya perkirakan tahun ini devisa akan naik menjadi US$25 miliar dan harga CPO antara US$725–US$750/ton,” ungkap Tungkot berdasarkan analisis fundamen – tal suplai dan permintaan pasar dunia.

Tantangan

Gambaran positif tersebut di sisi lain menghadapi sejumlah tantangan. Dari luar negeri tantangan kebijakan proteksionisme berupa resolusi sawit Uni Eropa dan tuduhan dumping dari Amerika Seri – kat yang diikuti India melalui kebijakan “made in India” sudah menghadang. “Ka – lau hal ini gagal diantisipasi pelaku sawit kita, maka target ekspor 35 juta ton tidak tercapai,” cetus Tungkot. Di level domestik masih juga berurusan dengan ketidakpastian tata ruang. Selain itu, ada rencana moratorium sawit lagi. “Anehnya Indonesia, Presiden kita pa – sang badan dorong ekspor sawit inter – nasional tapi kementerian justru banyak yang menggerogoti. Contoh, rencana moratorium sawit itu bukan datang dari presiden tapi dari Kementerian Ling kung – an Hidup dan Kehutanan. Bukan rebosiasi yang ditingkatkan, malah mengurusi sawit yang jadi kewenangan Kementan,” kritik alumnus IPB ini. Dia menyepakati kebijakan keberlanjutan dengan pelaksanaan peremajaan kebun yang didorong Presiden Jokowi. “Nah, kunci sukses sawit tergantung kon – sistensi peningkatan produktivitas dari 4 ton minyak menjadi 6-8 ton per hektar. Kedua hilirisasi ke produk yang lebih jauh, misalnya memproduksi bioplastik dari sawit dan juga mengembangkan bio – avtur,” tutup Tungkot.